Telusur Masa Lalu
Membuka mata, mengusap mata penuh tungau kasur. Keadaan kamar dua kali dua meter ini sangat mengenaskan.
Gawaiku tak pernah berhenti berdentang sejak pukul tujuh pagi tadi. Tak ada sapaan selamat pagi atau pertanyaan agenda hari ini. Hanya berisi komplain tak kunjung berhenti sejak seminggu terakhir.
Pukul 09.38, sekali lagi aku mencoba menghidupkan laptopku. Mengenaskan. Layar laptop dengan borok akibat jatuh ini bahkan tak mau menolongku.
Sejak kemarin sore, ia terus menggerutu seperti sudah lelah dengan beban pekerjaanku. Ya, akhirnya ia tak mau hidup hingga pagi ini. Lalu bagaimana caraku menghadapi semua komplain ini?
Ocehan manajerku terus menggema dalam percakapan grup kantor. Hanya membual "ini bagaimana? itu bagaimana?" tanpa mencoba memahami sistemnya sendiri.
Untungnya kali ini bukan aku kambing hitam utamanya. Melainkan teman senasibku sejak hari pertama kuliah. Meskipun aku turut berkontribusi besar dalam pembuatan aplikasi tersebut, tapi bukan salahku kali ini. Bukan aku yang di-mention-nya.
Kembali ke laptop, suara si unyil diperagakan dalam kepalaku. Semua agendaku kacau hari ini. Harusnya aku mengurus beberapa hal, tapi laptop ini tak mau memaafkan dan mendengarkan penjelasanku.
Mau tidak mau, aku harus membawanya ke dokter.
Aku langsung meraih kaos pemberian kakakku beberapa tahun lalu. Mengenakan outer murah dan celana yang lebih murah lagi. Tanpa mandi, tanpa ritual setoran pagi, bahkan tanpa mengisi perutku yang keroncongan. Suatu momen langka di mana aku harus membuang weekend berhargaku.
Tidak seperti kawan seumuranku pada umumnya, aku masih mengandalkan transportasi umum untuk berpindah ke satu tempat ke tempat lainnya. Tapi itu adalah lain hal.
Butuh 7 menit untuk aku mendapat bis yang dapat mengantarku ke tempat incaranku. Dalam perjalanan, bis melaju ugal-ugalan seperti biasanya. Mungkin karena ini hari sabtu, aku hanya perlu 38 menit untuk sampai ke tempat tujuanku.
Tempat yang pernah jadi kampung halamanku, lingkungan yang pernah mrmbesarkanku, memaksaku menjadi dewasa padahal aku tak ingin. Yap, tempat perbaikan laptop yang aku tahu betul bisa memecahkan masalah laptopku ada di daerah tempatku berkuliah dulu.
Sebagai salah satu dari sedikit orang yang menetap berdekatan dengan daerahku kuliah, aku sebenarnya tak terlalu suka dengan tempat ini
Harum kenangannya masih semerbak di pikiranku.
Tiga tahun lalu, ada masanya di setiap sudut kecamatan ini, ada orang yang akan menyapaku. Teman sejurusan, teman di luar jurusan, temannya temanku, penjaga toko aksesoris, tukang parkir warung makan, pemilik burjo, dan banyak lagi.
Setelah 20 menit naik bus, aku lanjutkan dengan naik ojek online agar dapat memasukkan laptopku ke IGD secepatnya.
Bau aspal yang familiar, toko-toko baru yang tampak dengan karangan bunganha, ruko-ruko lama yang berganti karena bangkrut. Semuanya masih sama.
Tempat di mana aku bisa melihat bayang tawa temanku. Membuatku hampir meneteskan air mata. Dulu setidaknya kami mengunjungi gang sempit ini beberapa kali dalam sebulan. Mau itu sore, malam, bahkan pukul dua dini hari. Sekedar untuk mencari makan atau berkeliling menceritakan duka berorganisasi.
Gang yang sama inilah yang menjadi tempatku mempercayakan laptopku.
Gambaran semunya masih bisa kulihat. Masa-masa di mana aku berboncengan, menghabiskan malam bertabur bintang, bisingnya malam itu masih bergaung dalam kepalaku.
Cahaya lampu berpendar indah malam itu. cahaya oranye yang menghiasi candaan kami, menguraikan tiap kalut, hingga memeluk kami dalam indahnya dekapan persahabatan.
butuh 5 menit untuk menjelaskan penyakit kronis laptopku pada sang tabib komputasi. aku langsung beranjak dari ruko 3x4 meter itu, meninggalkan laptopku pada tumpukan antrian service.
Menjajaki tiap langkah dikelilingi ruko. beberapanya pernah kami kunjungi untuk sekadar memuaskan penasaran.
Membelah panasnya udara tengah hari, aku malah tenggelam dalam rasa nostalgiaku. sedikit melankolis, tapi tak apa. izinkan aku sedikit meromantisasi hidupku yang penat ini.
Ada masanya, aku menelusur gang ini hanya berdua. Berjalan berbalut senja. Bercengkerama layaknya teman hidup.
Setiap beban hidup kami uraikan menjadi bab-bab, mengambil setiap pelajaran darinya. Meskipun di tiap akhir paragrafnya dipenuhi umpatan, tapi itulah hidup. tragedi jadi komedi, insiden jadi eviden. Eviden bahwa kita pernah hidup, menghabiskan waktu bersama, meski itu tak selamanya.
Sembari laptopku dibedah, aku memutuskan untuk berdiam diri di sebuah cafe dekat sana.
Entah bodoh atau tolol, tapi sebenarnya ada dua jalan menuju arah sana, jalan neraka dunia atau neraka pikir.
Neraka dunia artinya aku harus berjalan menyusuri jalan utama kampus almamaterku, motor pun hanya bisa melaju 20km/jam saja di sana. Tentu saja aku memilih neraka pikir. Melewati tempat yang pernah menjadi kos sosok Hawa, sang pujaan hati.
Dari awal cerita ini, sebenarnya sosok Hawa sudah menjadi bagiannya. Hawa adalah salah satu bagian dari teman bergaulku yang sempit. Di tiap momen pencarian makan pukul dua pagi selalu ada dia, di tiap momen pembicaraan berat selalu ada dia, bahkan di tiap masa terendahku dia selalu terlibat. Hanya saja aku yang terlalu bodoh untuk memahaminya. Tapi itu adalah kisah lainnya.
Kosnya dulu adalah titik kumpul kami jika ingin bepergian, entah itu berkuliner ria, memperbincangkan hidup, maupun hal-hal lainnya. Parkiran kosnya, tempat kami dulu menunggunya bersolek masih melekat di kepalaku. aku dan beberapa temanku, mungkin ditemani beberapa motor dan helm yang tergeletak di spion masih tervisualisasi dengan jelas.
Kini aku melewatinya, tanpa motor temanku, tanpa helm hitamku. Kutengok, helm biru langitnya kini sudah tak bersandar di tempat helm kosnya.
Teks "kos sudah penuh" yang tertempel di pagarnya, membuatku beranggapan ia masih disana. Menunggu kami menjemputnya untuk mengelilingi kota, mendengarkan hiruk pikuk sibuknya dunia malam, serta mencoba cafe-cafe estetik yang mahalnya minta ampun.
Tapi itu sudah lampau. Kini ia sudah bahagia. Bersama orang yang inginkan. Karena aku adalah orang yang tak pernah ia inginkan. Itu adalah kisah lainnya.
Hidup terus berjalan, begitu pula aku melewati jalan depan kos yang menyiksaku dengan kenangan bersamanya.
Sebelum masuk ke cafe yang jaraknya 50 meter daru kos Hawa, aku menyeberangi jalan yang ramainya minta ampun. untuk sekedar mengisi perutku dengan ayam bali crispy, agar perutku tidak kaget dengan asupan kafein nantinya.
cukup 20 menit aku mengunjungi stasiun pengisian energi itu. aku langsung bergegas memasuki cafe estetik itu. Cafe yang dulunya sering dijadikan hawa tempat menuliskan tiap paragraf skripsinya.
Aku mendaki tangga mungil untuk mendapatkan view terbaik dari cafe tersebut. Ini adalah kali pertamaku mengunjungi cafe ini.
Di sinilah aku menuliskan huruf demi huruf yang kalian baca saat ini. Dengan tiga kursi kosong menemaniku. Mendengarkan tiap nyanyian Olivia Rodrigo tentang penghianatan atau penyembuhan. Ironinya keduanya adalah benar kisahku bersama Hawa. Itu adalah lain kisah.
Sekarang aku hanya merenung, menunggu sang tabib laptop menghubungiku. Mendengungkan tiap perbincangan yang pernah kami lakukan. Membayangkan jika dia duduk di depanku dengan senyumnya yang manis. Mungkin jika dia ada di depanku sekarang, aku akan bertanya.
Masihkah kamu mengingatku? Meskipun itu sebagai orang yang paling ykamu benci?